Jangan Ribut !

Jangan RibutDi sebuah masjid, tiba-tiba berdirilah seorang bapak tua dengan penuh keseriusan memberikan petuahnya yang bermanfaat. Pasalnya, bapak tua ini sudah muak melihat tingkah dan pola anak-anak kecil yang suka berbuat gaduh dan keributan di dalam masjid sehingga para jama’ah masjid terganggu dalam beribadah dan berdzikir kepada Allah -Azza wa Jalla-; para jama’ah muak dan tak betah dibuatnya. Mestinya masjid adalah tempat mencari ketenangan tapi malah menjadi arena, stadion, dan pasar yang di dalamnya penuh dengan suara berisik, gaduh dan ribut.

Ini adalah salah satu fakta nyata yang kita temukan di lapangan; seringnya kita menemukan masjid-masjid yang diramaikan oleh jama’ah, akan tetapi ke-khusyu’-an tak ditemukan di dalamnya, akibat ulah dan tingkah bocah kecil yang tak terdidik oleh orang tua dan masyarakatnya. Bocah-bocah cilik ini dibiarkan berbuat ribut dan berlari atau berteriak di rumah-rumah Allah (masjid-masjid), dengan penuh kebebasan, tanpa ada teguran sedikitpun, kecuali dari sebagian jama’ah yang peduli, seperti bapak tua tadi.

Para Pembaca yang budiman, masjid adalah tempat ibadah dan ketaatan (seperti, membaca Al-Qur’an, dzikir, taklim, dan lainnya). Di dalamnya seorang hamba berkonsentrasi melakukan sholat, dzikir, dan mempelajari ilmu agama. Semua ibadah yang kita kerjakan di masjid membutuhkan ketenangan (ke-khusyu’-an). Jika ada yang berisik, pasti ketenangan dan khusyu’ kita akan hilang, sedang khusyu’ adalah ruhnya ibadah. [Lihat Fushul wa Masa’il Tata’allaq bi Al-Masaajid (hal. 43)]

Oleh karena itu, tak ada salahnya ketika syari’at kita mengajarkan kepada kita agar jangan berbuat gaduh di masjid, sebab ia adalah tempat yang memiliki keutamaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh rumah biasa. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah : 18)

Allah menjelaskan bahwa masjid adalah tempat bagi orang-orang beriman yang ingin menegakkan sholat dan ibadah-ibadah lainnya. Nah, bagaimana mungkin seorang mukmin menegakkan dan memperbaiki sholatnya sementara di dalam masjid terdengar suara ribut dan gaduh, akibat ulah anak-anak kecil, dan sebagian jama’ah yang gemar ngobrol dengan suara lantang?!!
Di dalam ayat lain, Allah -Ta’ala- berfirman menjelaskan keutamaan masjid,
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) menegakkan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (QS. An-Nuur : 36-37)
Seorang tak mungkin akan dianggap memuliakan masjid jika ia berbuat gaduh dan ribut di dalamnya atau membiarkan hal itu terjadi di masjid. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- menukil dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- bahwa beliau berkata, “Allah –Subhanahu- melarang dari melakukan perbuatan sia-sia di masjid-masjid”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/62)]

Bukankah perbuatan sia-sia, bila anak-anak kita ribut dan berlari di masjid sehingga mengganggu para hamba-hamba Allah yang bersusah payah khusyu’ dan menghadirkan hati?!! Masjid-masjid yang kita tempati beribadah hendaknya kita bersihkan dari suara-suara yang mengganggu konsentrasi ibadah, baik itu berupa suara anak-anak, orang dewasa, tertawa, suara HP, suara musik, dan lainnya.

Masjid adalah tempat yang mulia. Saking mulianya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita agar sholat dua raka’at sebagai tahiyyatul masjid, sebelum duduk di masjid sebagaimana dalam sabdanya,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika Seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaknya jangan duduk sampai ia sholat dua raka’at”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim]

Para pembaca yang budiman, mengangkat suara alias ribut dan berisik di masjid merupakan perbuatan yang melanggar adab-adab yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Oleh karenanya, ketika Umar -radhiyallahu anhu- melihat ada dua orang yang ribut di dalam Masjid Nabawi, maka beliau memarahi mereka.
As-Saa’ib bin Yazid -rahimahullah- menceritakan bahwa Umar bin Khoththob memerintahkannya untuk mendatangkan dua orang yang ada di masjid. Umar berkata kepada keduanya, “Siapa kalian, dan kalian berdua dari mana?” Keduanya menjawab, “Dari Tho’if”. Kemudian beliau berkata,

لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Andaikan engkau berdua termasuk penduduk Madinah, maka aku akan menginjak kalian. Engkau berdua telah mengangkat suara di Masjid Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 470)]

Ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- merapatkan dan meluruskan shaff, maka beliau mengingatkan kepada para sahabat agar ketika mulai mengatur shaff masing-masing, janganlah berbuat gaduh dan ribut, seperti kondisi pasar!! Tapi setiap orang tenang dan tidak ribut sehingga khusyu’ dan ketenangan bisa tercipta dari awal hingga akhir sholat. Beliau bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَهَيْشَاتِ الْأَسْوَاقِ

“Waspadalah kalian dari kegaduhan (seperti yang terjadi) di pasar”. [HR. Muslim (no. 973)]

Gaduh yang dimaksud adalah mengangkat suara, hiruk-pikuk, pertengkaran, canda, dan perbuatan yang sia-sia. [Lihat Syarh Shohih Muslim (4/376)]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah melarang para sahabatnya menjadikan masjid sebagai jalan yang dilalui oleh setiap orang yang mau lewat, sebab hal ini akan mengganggu orang yang beribadah di dalamnya, menimbulkan suara gaduh, dan hilangnya kehormatan masjid. Bahkan beliau mengingatkan bahwa realita seperti ini salah satu tanda dekatnya kiamat.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لا تتخذوا المساجد طرقا إلا لذكر أو صلاة

“Janganlah kalian menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali untuk dzikir dan sholat”. [HR. Ath-Thobroniy dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1001)]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- juga melarang kita melakukan perniagaan di dalam masjid atau mengumumkan barang yang hilang di dalamnya, sebab hal-hal ini akan mengundang suara gaduh dan ribut. Sedang hal-hal ini tentunya menyalahi tujuan diciptakannya masjid, yaitu untuk sholat dan dzikrullah.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Jika kalian melihat ada orang yang jual-beli di masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan bagi perniagaanmu”. Jika kalian melihat ada yang mengumumkan di dalamnya barang yang hilang, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 3121)]

Al-Bayadhiy -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah keluar menemui manusia, sedang mereka melaksanakan sholat, dan sungguh suara mereka tinggi dalam membaca Al-Qur’an. Lantaran itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang sholat sedang bermunajat dengan Robb-nya -Azza wa Jalla-. Karenanya, perhatikanlah sesuatu yang ia munajatkan, dan janganlah sebagian orang diantara kalian mengeraskan suaranya atas yang lain dalam membaca Al-Qur’an”. [HR. Malik, dan Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 856)]

Abul Walid Al-Bajiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan alasan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang untuk mengangkat suara saat membaca Al-Qur’an dalam sholat sunnah, sedang saudaranya juga sholat sunnah, “Karena, di dalam hal itu terdapat gangguan kepada yang lain dan halangan untuk menghadap kepada sholat, konsentrasinya hati kepada sholat, dan perhatian seseorang terhadap sesuatu yang ia ucapkan kepada Robb-nya berupa bacaan AL-Qur’an. Jika mengangkat suara dalam membaca AL-Qur’an adalah terlarang ketika itu (yakni, dalam kondisi sholat), karena mengganggu orang-orang yang sholat, nah kalau dilarang mengangkat suara saat berbicara dan lainnya, maka tentunya lebih utama (untuk dilarang) berdasarkan sesuatu yang telah kami sebutkan; juga karena di dalam perbuatan itu terdapat perendahan terhadap masjid-masjid, serta tidak menghormatinya, tidak membersihkannya sebagaimana wajibnya, dan tidak menfokuskannya untuk tujuan masjid itu dibangun, yakni mengingat Allah -Ta’ala-”. [Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo’ (1/185)]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda dalam melarang para wanita memakai parfum saat keluar rumah,

أَيَّتُكُنَّ خَرَجَتْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا تَقْرَبَنَّ طِيبًا

“Siapa saja diantara kalian (yakni, wanita) yang hendak keluar menuju masjid, maka janganlah ia mendekati (memakai) parfum”. [HR. An-Nasa’iy. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2693)]

Sebagian ulama menjelaskan hikmah larangan ini bagi wanita, sebab jika wanita keluar ke masjid dengan memakai wewangian, maka wewangiannya akan mengganggu konsentrasi orang-orang yang sholat. Sebab wewangian wanita lebih kuat dalam membangkitkan syahwat kaum lelaki. Jika ia memakainya ke masjid, maka otomatis ia akan mengganggu pikiran orang-orang yang sholat. Pikirannya akan tertuju kepada sesuatu yang menghilangkan khusyu’-nya. Wallahu A’lam.
Jika wanita saja dilarang memakai parfum ke masjid karena dikhawatirkan baunya mengganggu jama’ah, maka tentunya suara ribut anak kecil lebih layak dihilangkan. Oleh karena itu, hendaknya orang tua tidak membawa anaknya ke masjid jika ia suka gaduh di masjid. Jika ia tenang dan tak ribut, maka orang tua boleh membawa sang anak sambil diingatkan agar jangan ribut di masjid. Sebab jika anak ribut sehingga mengganggu dan menghilangkan khusyu’ semua jama’ah, maka dosanya bukan kembali kepada si anak yang masih lugu, tapi kembali kepada orang tua yang tak mengingatkan dan mendidik anaknya agar tidak berbuat gaduh di masjid. Jadi, anak hendaknya didik agar menjaga adab dimanapun mereka berada, apalagi di rumah-rumah Allah.

Imam Darul Hijroh, Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah- pernah ditanya tentang seorang bapak membawa anaknya ke masjid, “Apakah hal itu dianjurkan?” Beliau -rahimahullah- menjawab, “Jika ia sudah mencapai usia beradab, dan telah mengenal adab, serta tidak bermain-main di masjid, maka aku memandang hal itu tak mengapa. Jika ia kecil sekali, tidak tenang di dalam masjid, dan suka bermain-main, maka aku tak menyukai hal itu”. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal. 286-287) karya Masyhur Alu Salman]

Terakhir, sebagai nasihat kepada para jama’ah yang rajin melakukan sholat jama’ah. Jika kalian mendatangi sholat jama’ah, maka anda hendaknya memperhatikan HP yang ada bersama anda. Matikanlah bila anda sudah berada di masjid. Bila lupa mematikannya sehingga berdering saat sholat sedang ditunaikan, maka matikanlah HP anda, walapun harus bergerak dan merogoh kantong.

Demikian pula, bagi para jama’ah yang membawa bocah kecilnya ke masjid, maka hendaknya si anak selalu diingatkan setiap kali sebelum ke masjid agar jangan ribut dan mengganggu. Bila ia ribut, maka beri hukuman mendidik, misalnya: tidak membawanya lagi ke masjid sampai ia sadar dan tidak lagi ribut.

Selain itu, seluruh kaum muslimin bertanggung jawab menjaga ketenangan rumah-rumah Allah dari gangguan dan suara ribut, baik asalnya dari anak kecil ataupun orang besar. Bila ada yang ribut, jangan membiarkannya. Tegurlah dengan baik, agar mereka diam dan tidak mengganggu, walapun masjid kosong dari jama’ah sebagai adab dan pemuliaan kita terhadap rumah-rumah Allah.

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro.

One thought on “Jangan Ribut !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s