Tahun Baru 1430H momentum perubahan

Oleh: Watni Marpaung, M.A.
Sumber dikutip dari harian WASPADA online

Tidak terasa pergantian waktu begitu cepat, waktu satu tahun seolah hanya dilalui dalam satu bulan dan demikian seterusnya sehingga sudah berada di penghujung tahun 1949 H dan memasuki tahun 1430 H.

Pada hakikatnya waktu yang dilalui tetap sama, tetapi disebabkan semakin tinggi dan terlalu sibuk aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehingga dirasakan terlalu cepat, padahal, masih segar dalam ingatan perayaan tahun baru sebelumnya. Namun, demikian seterusnya perjalanan hidup yang tidak pernah berhenti sampai kita dipanggil Allah untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah kita lakukan.

Seorang muslim yang baik dan taat dapat menjadikan hijrah sebagai sebuah momentum untuk mengintrospeksi diri sekaligus langkah awal untuk menapaki kehidupan selanjutnya dan akan berupaya menjauhi segala bentuk perbuatan yang tidak bermanfaat sekaligus berbuat yang lebih baik lagi.

Melakukan introsfeksi sekaligus melakukan perubahan dalam memasuki awal tahun sangatlah dianjurkan agama dalam rangka perbaikan aktvitas dan ibadah ke depan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Umar Ibn Khattab yang menyatakan, “Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung dan timbanglah amal kamu sebelum Allah menimbangnya”.

Pernyataan umar di atas mengajarkan kepada kita untuk bersegera mengevaluasi seluruh amal perbuatan yang telah dilakukan dan berupaya semampu mungkin melakukan perubahan untuk berbuat lebih baik pada tahun mendatang. Dengan demikian, suatu sikap yang arif dalam memasuki tahun baru dengan melakukan penghayatan yang mendalam untuk dapat melakukan perubahan-perubahan di masa yang mendatang, bukan seperti pada sebahagian orang merayakannya dengan berpesta dan rekreasi, dan sebagainya yang terkadang tidak dapat memberikan kontribusi untuk melakukan perubahan.

Membangun Semangat perubahan (Hijrah)
Dalam perjalanan sejarah Islam, bahwa penanggalan tahun baru hijriyah dimulai penghitungannya sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, berdasarkan musyawarah sahabat dengan menjadikan pendapat Ali bin Abi Thalib yang terpilih, kendati pun masih ada pendapat yang lain. Dengan demikian, sudah seyogianya bagi seluruh umat Islam di belahan bumi mana pun berada supaya dapat menangkap pesan dan semangat hijrah yang dilakukan Rasulullah beserta sahabat dalam memasuki awal tahun baru 1430 H.

Hijrah yang dimaksud adalah”punya semangat kuat untuk meninggalkan perbuatan maksiat, tercela kepada yang perbuatan yang baik atau lebih baik lagi”. Melakukan hijrah yang sama seperti dilakukan Rasulullah secara tempat mungkin dapat dikatakan tidak lagi relevan dan konteks kekinian, tetapi lebih mengarah kepada pesan dan semangat yang dikandung proses hijrah itu sendiri.

Dengan demikian, yang terpenting bagi kita adalah dapat menangkap pesan dan semangat yang telah dilakonkan Rasulullah Saw, sehingga membentuk komitmen dan membentuk keteguhan hati untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan kualitas iman. Kita melihat teguh pendirian dan semangat para sahabat dalam memperjuangkan akidah dan keislaman mereka.

Sementara itu, tidak sedikit mereka yang disiksa dengan berbagai cara bahkan ada yang terbunuh. Begitu teguhnya keimanan mereka sampai berhijrah ke Madinah sekalipun dengan jarak tempuh yang cukup jauh, rintangan musuh, dan sebagainya tetapi tetap saja dilalui untuk memenuhi seruan Allah.
Oleh sebab itu, setidaknya semangat hijrah dalam memasuki 1430 H harus dapat terimplementasi oleh berbagai pihak sebagai berikut:

Pertama, bagi para pejabat negara supaya dapat menghitung dengan arif dan sadar berapa jumlah harta rakyat yang telah mereka makan dengan jalan korupsi, manipulasi, penipuan dan sebagainya.

Setelah itu, berusahalah untuk bertaubat dengan taubat nashuha dengan menyesali segala perbuatan tersebut ditambah lagi dengan mengembalikan harta rakyat yang telah dihabiskan dengan jalan yang batil. Jadi, jika ingin bertaubat dengan benar, tidak cukup hanya dengan meminta maaf kepada rakyat dengan harapan dihapuskan seluruh kesalahan yang pernah dilakukan selama menjabat.

Kedua, bagi para pengusaha agar kiranya dapat melakukan pengayoman kepada buruh pekerja dengan menghargai seluruh hak-hak yang mereka miliki, dan tidak melakukan pemecatan dan pengurangan gaji dengan memutuskannya secara sepihak sebagaimana yang banyak terjadi belakangan ini di tanah air. Dan tidak kalah pentingnya adalah mampu bersinergi dengan pemerintah dalam mensukseskan segala pembangunan yang dicanangkan pemerintah dengan hubungan kerja sama yang baik.

Ketiga, bagi para akademisi, setidaknya dapat membangun citra etika akdemik yang bagus dan dapat dijadikan contoh oleh seluruh masyarakat. Dan selalu melakukan kritikan-kritikan sehat terhadap kebijakan-kebijakan pemrintah yang tidak berpihak kepada masyarakat dengan cara yang arif.
Sebab salah satu kerja mulia insan-insan akademis dapat memberikan kritikan yang konstruktif dengan mengharapkan perbaikan di masa mendatang. Bukan malah sebaliknya, melakukan justifikasi terhadap berbagai kebijakan penguasa dengan berbagai alasan dan apologi hanya untuk mendapatkan kepopuleran nama atau yang lainnya.
Keempat, bahwa bagi seluruh masyarakat dari berbagai level eksistensi ekonomi dan tarap hidupnya juga dapat melakukan hijrah secara kolektif menurut fungsi dam profesinya masing-masing. Bagi pengguna jalan raya, misalnya, paling tidak sudah mampu melakukan hijrah dengan selalu mentaati segala peraturan lalu lintas yang telah ditetapkan, dan sebagainya.

Dengan kata lain, hijrah tidak saja dilakukan tidak hanya pada tataran individu, namun diharapkan secara menyeluruh, baik mereka yang berada di legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Sehingga hijrah yang dilakukan tidak parsial yang tercermin pada individu-individu kecil yang akan berkonsekuensii dalam menghasilkan perubahan yang lebih baik lagi di masa depan.

Peringatan tahun baru hijriyah yang kita lakukan setiap tahunnya paling tidak menginginkan terjadinya perubahan yang signifikan terhadap umat Islam secara keseluruhan untuk dapat lebih baik lagi di masa yang akan datang dalam segala hal. Berbagai peristiwa yang terjadi selama satu tahun setidaknya dapat dijadikan tonggak sejarah untuk dapat menata hidup yang lebih baik di masa mendatang dengan tetap bercermin kepada petunjuk yang diturunkan Allah Swt.

Penutup
Tahun baru hijriyah 1430 merupakan momentum yang baik untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik masa mendatang dalam berbagai bidang kehidupan. Perubahan yang dimaksud tidak saja pada individu-individu tertentu saja tetapi meliputi seluruh pihak, pejabat, pengusaha, akademisi, bahkan sampai dengan rakyat kecil sekali pun, dalam rangka untuk melakukan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Penulis adalah Ketua Divisi Litbang Forum Kajian Islam Dan Masyarakat (FKIM) dan Tim Tafsir al-Qur’an al-Karim Ulama Tiga Serangkai Sumatera Utara.

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=58432&Itemid=52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s