Sindrom Tsalabah

Dan diantara mereka ada orang yang berjanji kepada Allah, sesungguhnya jika Ia beri kami kurnia-Nya, tentu kami akan sedekahkan dan tentu kami termasuk orang-orang yang baik-baik. Tetapi tatkala Allah beri kepada mereka kurnia-Nya jadilah mereka bakhil dan mereka membalik belakang dalam keadaan berpaling.  Maka, Allah sebabkan adanya nifaq dalam hati mereka sampai hari mereka bertemu Dia, lantaran mereka menyalahi janji yang telah mereka janjikan dan lantaran mereka berdusta. (QS At Taubah 75-77)

 

Ketika Nabi SAW membangun masjid di Madinah, beliau  menyediakan tempat terbuka di ujungnya. Tempat itu diberi naungan dan disebut Shuffah. Di situlah tinggal para sahabat Nabi yang miskin atau pendatang jauh yang tak punya sanak saudara. Mereka hidup sangat sederhana dan seringkali menderita lapar. Malam-malam terkadang Nabi mengundang sebagian mereka untuk makan malam bersama Beliau dan sebagian yang lain bersama sahabat Nabi yang lain.

Ketika Husein lahir, Nabi SAW menyuruh Fatimah bersedekah senilai perak yang beratnya seberat rambutnya. Sedekah itu diminta Nabi untuk diserahkan kepara Ahli Shuffah dan orang miskin. Sekali-sekali Nabi menyuruh sahabatnya yang lain mengirimkan makanan kepada penghuni Shuffah. Dengan segala kemiskinannya, Ahli Shuffah terbukti menjadi sahabat-sahabat Nabi pilihan. Merekalah yang paling rajin menghadiri majlis-majlis Nabi. Siang hari mereka berpuasa. Malam hari mereka rukuk dan sujud. Waktu-waktu luangnya mereka gunakan untuk berdzikir. Ketika perang berkecamuk, merekalah yang paling dahulu dibawa Nabi ke medan pertempuran.

Di “pesantren” Shuffah inilah keluar Hanzhalah bin Abi ‘Amir yang jasadnya dimandikan para malaikat; Salman Al Farisi, pengembara pencari kebenaran yang dianugrahi ilmu awwalin dan akhirin; Abdullah bin Mas’ud yang mendapat gelar pembaca Al-Qur’an pertama kepada orang kafir setelah Nabi; Al Bara bin Malik yang rambutnya tertutup debu karena lamanya beribadat di dalam masjid; Haritsah bin Nu’man yang suara bacaan Al Qur’annya di surga kedengaran oleh Nabi dalam mimpinya; dll.

Kepada merekalah pada suatu hari Nabi SAW datang. Dengan ramah Nabi menyapa mereka, “Apa kabar kalian pagi ini?” Serentak mereka menjawab,”Baik ya Rasulullah”.

“Hari ini kalian ada dalam keadaan baik. Bayangkan apa yang terjadi pada kalian jika pada pagi hari kalian makan dalam satu wadah dan sore harinya pada wadah yang lain. Kalian menutup rumah kalian seperti mentutup Ka’bah?”

“Ya Rasulullah, apakah dalam keadaan yang demikian kami masih tetap dalam agama kami?”

“Benar.”

“Kalau begitu, hari itu kami lebih baik dari hari ini. Kami dapat bersedekah dan membebaskan budak.”

“Tidak, hari ini lebih baik bagi kalian dari hari itu. Nanti kalian akan saling mendengki, saling menjauhi, dan saling membenci.”

Para ahli tafsir mengatakan bahwa berkenaan dengan Ahli Shuffah ini turun ayat: Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-NYa, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan rezeki dengan ukuran yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (QS Asy-Syuura 27)

Ada di antara manusia orang-orang seperti Ahli Shuffah. Tuhan menyempitkan rezeki-Nya, tetapi memberinya peluang yang banyak untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin. Dalam keadaan miskin mereka menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Termasuk kebijaksanaan Allah untuk membuat mereka kekurangan. Sebagaimana badai utara telah memperkuat bangsa Viking, seperti itulah penderitaan mengasah rohani hamba-hamba Allah. Dengan ayat itu Tuhan dan Rasul-Nya menghibur Ahli Shuffah untuk mensyukuri kekurangan mereka. Justru kalau mereka kaya, mereka mengalami degradasi secara spiritual.

Walaupun turun berkenaan dengan Ahli Shuffah, ayat itu menyentuh kita semua. Bukankah ketika kita miskin, kita rajin shalat berjamaah di masjid? Bukankah ketika jabatan kita tidak setinggi sekarang, kita memiliki banyak waktu untuk berkencan dengan keluarga dan berkhidmat dengan umat? Bukankah ketika bisnis kita belum semaju sekarang, kita sering bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan tetangga? Bukankah setelah organisasi dan yayasan kita memperoleh dana besar, kita bertengkar, jadi saling menjegal dan memfitnah?

Di sekitar kita, kita melihat orang-orang yang “korup” karena kekayaan. Banyak orang shaleh pada masa kesempitan berubah menjadi orang salah pada masa kesempatan. Ketika rezekinya banyak mereka tidak punya waktu untuk beribadat, tidak jarang bahkan mereka melakukan maksiat. Ketika menjadi aktivis kampus, ia tidur di masjid karena tidak sanggup menyewa rumah. Di masjid itulah sebagian besar malamnya dihabiskan dalam dzikir. Setelah menjadi direktur perusahaan, ia sering berkunjung ke tempat hiburan dan menghabiskan sebagian malamnya di situ. Ketika menjadi aktivis kampus yang kekurangan duit, ia terkenal “vokal” mengkritik kebijaksanaan pemerintah yang menindas rakyat. Setelah memasuki posisi yang basah, ia bungkam. Gelt dat  storm is maakt recht wat krom is. Uang yang bisu dapat meluruskan yang bengkok. Uang yang bengkok juga telah membuat orang lurus menjadi bisu.

Ketika Tsalabah memohon do’a kepada Nabi agar dikaruniai rezeki yang banyak, Nabi SAW bersabda, “Harta sedikit yang dapat engkau syukuri lebih baik dari harta banyak yang tidak sanggup engkau syukuri.” Tsalabah mendesak. Nabi mendo’akannya. Tuhan mengabulkan do’a Nabi. Tsalabah menjadi kaya. Makin bertambah kekayaannya, makin jauh ia dari masjid, makin jarang bertemu dengan saudara-saudaranya kaum mukmin. Sebuah ayat (QS At Taubah 75-77) turun memberikan peringatan kepadanya. Keluarganya menangis karena tahu ayat itu diturunkan kepadanya. Tsalabah tak hirau. Ia mati tragis dalam kemunafikan dan kebakhilan.

Jika hari ini anda kekurangan, berdo’alah supaya digabungkan dengan Ahli Shuffah. Jika anda kaya, berhati-hatilah dengan “sindrom Tsalabah.”

Oleh Fikri Yathir

Dikutip dan dilengkapi Surat At Taubah oleh Sugeng Riyono

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s