Kesadaran Muslim perkotaan makin tinggi

Ada pergeseran meNarik pada umat Islam Indonesia dalam soal mempelajari Alquran. Dulu, mereka yang melek terhadap Alquran terdapat di kampung-kampung, sehingga tak sedikit keluarga yang akan menikahkan putrinya untuk melakukan khatam (tamat) Alquran menjelang acara pernikahan.Kini, kondisinya sedikit berbalik. Kesadaran melek Alquran justru kini muncul di perkotaan. ”Karena mereka secara terbuka bisa menerima berbagai metode mutakhir untuk mempelajari Alquran,” ujar KH Khaerul Yunus, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nisaa, Bogor kepada Republika, Rabu (14/9).

Masyarakat pedesaan, katanya, sangat sulit untuk menerima pembaharuan metode mempelajari Alquran. Bahkan, kata dia, ada yang sampai mengharamkan adanya metode yang baru mempelajari Alquran.

Padahal, kata dia, metode baru kerap kali muncul untuk menyempurnakan metode yang sebelumnya ada. Tujuannya adalah untuk memudahkan cara belajar, untuk memperoleh hasil akhir yang sama, yaitu melek huruf Alquran.

Berikut ini, wawancara lengkap dengan kiai yang sering memberi pelatihan metode Iqra ke berbagai daerah di Indonesia:

Bagaimana kondisi buta hurup Alquran di kalangan umat Islam Indonesia?
Kalau kita lihat dari hasil penelitian yang disampaikan Muhammadiyah pada tahun 1989 disebutkan dari lulusan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia ada sekitar 80 persen yang tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya sekitar 20 persen saja dari lulusan SD yang mampu membaca Alquran. Itu berarti untuk tingkat yang lebih atas: SMP dan SMA bisa jadi angkanya makin bertambah kecil, yang bisa membaca Alquran angkanya hanya kecil saja.

Selain itu, pada acara penataran metode Iqro di lingkungan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan tahun 1991, Rusydi Hamka yang menjadi ketua yayasan dalam sambutannya mengatakan tidak menjamin para lulusan SMP-SMA Al Azhar dapat membaca Alquran.

Nah, bagaimana dengan lulusan SD? Itulah salah satunya yang memotivasi lahirnya metode Iqra yang dikembangkan oleh almarhum As’ad Humam dari Yogyakarta, yang kemudian dikembangkan ke seluruh Indonesia.

Kondisi terkini bagaimana?
Dengan adanya gerakan mempelajari Alquran di mana-mana, terutama setelah adanya metode Iqra, bisa jadi persentase mereka yang tidak mampu membaca Alquran saat ini mulai berkurang, apalagi kalau kita lihat dukungan Pemerintah Daerah terhadap perkembangan kegiatan Taman Kanak-Kanak Alquran maupun Taman Pendidikan Alquran di seluruh Indonesia. Kita pun berharap, mereka yang mampu membaca Alquran masih tersebar luas, dan mereka yang buta hurup Alquran makin berkurang. Yang menarik, justru yang giat mempelajari dan melek Alquran banyak terjadi di perkotaan.

Mengapa bisa begitu?
Pada jaman dulu, di kampung-kampung, orang akan merasa malu dan minder kalau tidak mampu membaca Alquran. Bahkan, seorang ayah yang akan menikahkan putrinya, mengharuskan putrinya untuk khatam (tamat) Alquran sebelum naik ke pelaminan. Istri saya misalnya, ia naik panggung dan khatam Alquran sebelum melangsungkan akad nikah. Setiap surat yang dibaca, hadirinpun nyawer (melemparkan uang, red) kepada sang calon pengantin wanita. Masyarakat kampung saat itu berpandangan, seorang calon ibu haruslah pandai membaca Alquran, agar kelak dapat mengajar anak-anaknya membaca Alquran.

Nah, yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Masyarakat kota yang malah melek Alquran. Mereka dengan getol tanpa mengenal malu, belajar ke mana-mana berbagai metode yang memudahkan untuk mempelajari Alquran. Sedang masyarakat di kampung, tidak mau beranjak dari metode yang lalu. Bahkan tak sedikit di antara mereka sampai ada yang mengharamkan metode untuk mempelajari Alquran. Mereka mengatakan, metode mempelajari Alquran itu bidah. Subhanallah.

Lantas, kira-kira apa yang salah sampai masyarakat kampung kalah dari masyarakat kota dalam soal membaca Alquran?
Karena sekarang ini tak dikenal lagi doktrin khatam Alquran bagi calon pengantin wanita. Padahal itu dampaknya sangat positif. Yang ada sekarang ini, setiap resepsi pernikahan di kampung-kampung justru hanya acara hura-hura. Acara tiga hari tiga malam. Malam pertama ada goyang dangdut, malam kedua ada wayang golek dan baru malam ketiga ada kyai untuk mencuci dosa-dosa malam sebelumnya. Masyarakat kota sekarang lebih sadar dan ngeh ketimbang masyarakat kampung. Mereka bahkan banyak yang merasa bangga menyekolahkan anaknya ke TKA ketimbang TK umum. Karena selain dapat membaca Alquran dengan baik dan fasih, anaknya pun ternyata mampu membaca hurup latin dengan lancar. Ini kelebihan yang ada pada Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA). Selain itu, para orang tua pun senang karena anaknya kelak dapat mendoakan mereka.

Sebenarnya ada berapa banyak metode yang dikenal di Indonesia untuk mempelajari Alquran?
Cukup banyak. Metode pertama yang kita kenal untuk memelajari Alquran disebut Baghdadiyah. Metode ini bagus pada jamannya. Kelebihannya, metode Baghdadiyah ini lahir sebelum adanya metode-metode yang lain. Karena itu saya sangat tidak setuju bila dikatakan metode ini kurang baik. Saya sendiri bisa membaca Alquran dengan baik seperti sekarang ini karena belajar dengan cara Baghdadiyah yang pada jaman dulu memang dikembangkan oleh hampir seluruh ustadz dan guru mengaji.

Kedua, Metode Qira’ati. Metode ini sangat bagus dan menjadi cikal bakal dari lahirnya Metode Iqra. Methode ini ditemukan dan dikembangkan oleh KH Dahlan Zarkasyi dari Semarang. Sayangnya, buku panduan metode ini tidak mudah didapat di tempat umum.

Ketiga metode An-Nur. Metode ini hanya cukup untuk usia dewasa karena menggunakan simbol-simbol seperti tentara untuk tanda dlammah.

Keempat metode Iqra. Metode ini sangat variatif dan fleksibel. Mulai dari balita (anak-anak berusia di bawah lima tahun) hingga batuta (bapak tujuh puluh tahun). Istimewanya lagi, buku panduan metode Iqra mudah didapat di mana-mana, bertebaran hampir di tiap daerah Indonesia. Selain itu, untuk melakukan bimbingan dan pelatihan tak perlu mendapat diploma atau pengesahan seperti yang ada pada metode lain. Seseorang yang sudah mampu mengajarkan metode Iqra dengan baik, dapat melatih orang lain tanpa perlu adanya pengesahan.

Seberapa penting peran guru dalam meningkatkan kemampuan baca Alquran?
Wah, sangat penting. Peran guru atau ustadz itu sangat penting. Tapi, guru atau ustadz harus memiliki keikhlasan yang amat tinggi, lillahi ta’ala. Pesan Imam Ghazali, ”Kullu ma kharaja minalqalbi dakhala ilalqolbi, wa kullu maa kharaja minalfammi dakhala ila al-udzuni” (Sesuatu yang keluar dari hati guru yang ikhlas, akan masuk ke dalam hati anak. Tapi, bila sekadar keluar dari mulut guru/ustadz tanpa keikhlasan, maka hanya akan masuk ke dalam telinga anak). Ikhlas tak boleh diartikan gratis alias tanpa bayar, karena itu kemudian disalahfahami dengan ‘pekerjaan yang dilakukan asal-asalan’. Padahal ciri amal saleh adalah suatu pekerjaan dikerjakan penuh ketekunan dan keseriusan. Rasulullah SAW bersabda, ”Innallaha yuhibbu idzaa ‘amila ahadukumul ‘amala an yutqinahu” (Sesungguhnya Allah sangat mencintai seseorang yang bekerja dengan penuh ketekunan dan kesungguhan.)

Sumber: www.republika.co.id , by KH Khaerul Yunus: 
(disadur ulang by mjhcendana 22-05-2008)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s