Ujian Kelapangan

lapindo.jpgKita harus prihatin dan ikut sedih dengan musibah (gempa, banjir, lumpur lapindo, dll) yang selalu bangsa ini alami, terutama yang menimpa saudara-saudara kita. Namun kita harus lebih prihatin dengan musibah yang mengguncang iman kita.Siapapun yang sekolah pasti akan diuji, terutama kenaikan kelas/tingkat, begitupun dengan seorang pejabat yang akan menduduki suatu jabatan akan diuji dengan istilah test kecapan, atau dengan kata lain ….. dan lain sebagainya. Lain halnya dengan orang yang tidak ber-sekolah, mereka tidak akan diuji. Maka beruntunglah orang-orang yang diuji oleh Allah dan mereka mampu melewati ujian tersebut dengan baik.

Bagi yang taat, beragam kesulitan hidup, bencana alam, kelaparan, dan sebaginya adalah ujian untuk menaikan derajat sekaligus menggugurkan dosa-dosanya.

“Dari Abu Hurairah, Rasullullah SAW bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka diujinyalah ia dengan musibah”.

Dalam hadist lain disabdakan pula, “Tiada sesuatu yang mengenal seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan atau risau hati dan pikiran, melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya”. (HR. Bukhari Muslim).

Begitupun bagi orang yang taat tapi berlaku maksiat, musibah adalah peringatan agar ia kembvali kepada Allah. Sedangkan bagi ahli maksiat, musibah adalah awal dari bencana yang lebih besar (khususnya diakhirat).

Saudaraku, kita sering beranggapan ujian hanya berbentuk kesusahan saja. Padahal, kemudahan dan kelapangan hidupun hakekatnya adalah suatu ujian. Ujian kesusahan biasanya memudahkan kita kembali kepada Allah. Sebaliknya, ujian kemudahan dan kelapangan tidak jarang malah menjauhkan kita dari Allah. Betapa banyak orang yang celaka dan lupa diri justru saat ia dalam kelapangan. Karena itu, andai kelapangan tidak membuat kita lebih taat dan dekat dengan Allah, maka kita termasuk yang tidak lulus ujian.

Kita sangat prihatin dengan musibah yang selalu melanda negeri ini, namun kita harus lebih prihatin dengan musibah yang melanda/mengguncang iman kita. Menurunnya kualitas ibadah adalah suatu musibah. Tertinggal shalat berjama’ah dimasjid, berlalunya malam tanpa tahajud, jarang infaq/sedekah, malas membaca Al-Qur’an adalah musibah. Hilangnya kesempatan beramal juga suatu musibah, apalagi bila kita tahu ilmunya, namun tidak mau beramal, benar-benar musibah.

Allah SWT berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS: Ash Shaff [61]: 2-3).

Ingat, berhati-hatilah saat kita diberi nikmat, kelapangan atau kemudahan, tapi semua itu tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah. Boleh jadi nikmat tersebut adalah istidjraj, dimana Allah menghinakan kita dengan segala nikmat-Nya.

Bila saja kita memandang prihatin saudara-saudara kita yang terkena musibah. Padahal diri kita sendiri yang paling layak dikasihani, seandainya kelapangan dan kemudahan itu tidak kita syukuri. Sedangkan mereka, ditengah kesusahan hidup, kalau sabar, Allah pasti memuliakan dan mengangkat derajat mereka.

Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s