Kembalilah ke Masjid

Apa yang kita harapkan pada dasarnya peran dan fungsi masjid sesungguhnya bukan hal yang berlebihan. Sebab, masjid selain sebagai lembaga peribadatan juga sebagai lembaga da’wah yang hendaknya berusaha melayani masyarakat dengan maksimal mungkin.

Makna ini perlu kita sadari bersama. Sebab, kita melihat kaum kristiani juga telah berusaha semaksimal mungkin untuk memfungsikan gereja mereka sebagai salah satu agent of change (agen perubahan) yang siap membantu masyarakat. Hendaknya kita menyadari hal ini. Sekilas dari penelusuran bahwa mereka umumnya sangat tanggap terhadap permasalahan umat diantaranya jika terjadi bencana alam, keluhan kesehatan, kenaikan bahan pangan, kemiskinan dan kefakiran dalam bentuknya yang umum.

Bahkan dikatakan bahwa gereja-gereja di Indonesia sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia dan bagian dari Gerakan Oikumene secara mondial, secara proaktif merespon bencana kemanusiaan akibat gempa dan tsunami di Nangro Aceh Darussalam – http://www.pgi.or.id/isi-berita.php? Semua ini mereka lakukan dibawah satu atap manajemen gereja.
Bahkan meraka juga berusaha membuka pelayanan Konseling bagi jamaat mereka dan masyarakat umum. Hal ini diakui oleh mereka sendiri seperti dituturkan oleh meraka dalam sebuah websitenya, “Berbagai masalah kehidupan sedang mengancam keluarga Kristen masa kini”. Kalau kita peka, hampir setiap hari, saat kita bertemu teman ditempat kerja, berkunjung ke rumah kerabat, ada saja pergumuluan yang kita dengarkan. Seribu satu persoalan kehidupan bisa muncul.
Dewasa ini makin terasa kebutuhan konselor digereja dan sekolah di setiap rumah tangga. Makin banyak orang menyadari, pelayanan konseling dan perkunjungan makin dibutuhkan, sayangnya warga jamaat yang terlatih terbatas.
Atas dasar fakta ini, maka sebenarnya masjid di depan sebuah tantangan yang riil. Masjid berkejaran dengan peran dan fungsi gereja. Yang dimaksudkan disini bukan bekejaran dalam arti negatif namun lebih terarah ke arah persaingan positif dan sehat, jauh dari anarkhisme dan terorisme. Maka dari itu, perlu dilahirkan pandangan baru dalam mengelola masjid, jika tidak ingin tertinggal oleh agama lain. – sayangnya di Perguruan Tinggi Islam kita tidak ada mata Kuliah Manajemen Masjid, seperti halnya Manajemen Gereja.
Apa yang dimaksud dengan Gerakan Kembali ke Masjid sebenarnya sangatlah komplek. Realitanya memang banyak orang yang berlomba mendirikan masjid. Dan banyak pula yang berusaha senantiasa mendatangi masjid untuk shalat. Namun, sayangnya mereka seakan terpisah menjadi dua kubu. Satu kubu hanya senang membangun fisik masjid, dikubu yang lain hanya mampu melakukan shalat di masjid.
Idealnya, kembali ke masjid secara fisik dan mental. Tidak hanya senang membangun dan memperhatikan masjid secara fisik, tapi hatinya harus selalu terpaut dengan masjid. Jadi secara fisik selalu memikirkan bagaimana memelihara dan memakmurkan masjid, dan secara mental selalu rindu untuk beribadah serta menghadiri acara di masjid.

(mjh)

One thought on “Kembalilah ke Masjid

  1. Wach bagus yaa sampai-sampai Pengurus Masjid sempat2 nya mbuat web site. Semoga sukses dech …. Kembangkan terus, saya kira manfaatnya juga banyak.

    jazzakumullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s