“Tidak akan masuk surga orang yang melakukan fitnah (suka mengadu domba)’’
(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! (QS. al-Baqarah: 191). Pernyataan keras ini menunjukkan betapa terlarangnya fitnah. Bukan hanya menyebarnya yang dilarang, tetapi juga mendengarnya. Sebab dari celah inilah, terlahir sejumlah perbuatan buruk lainnya seperti dendam atau bahkan pembunuhan. Akibatnya, kekuatan umat menjadi lumpuh.
Umat yang lemah seringkali menjadi bulan-bulanan pihak-pihak lain. Umat yang lemah ibarat buih, kata Rasulullah SAW. Sebagaimana bentuknya, buih mudah terbawa arus, meskipun jumlahnya banyak, demikian juga keadaan umat.
Karena besarnya bahaya fitnah, Islam mengajak manusia untuk lebih berhati-hati terhadap sesuatu ucapan atau berita yang beredar. Nabi SAW memperingatkan kita untuk lebih memilih berdiam diri seraya berpikir dan meneliti kebenaran sesuatu kabar sebelum mengambil keputusan untuk bertindak. Di samping itu, setiap kita diharuskan memelihara lidah agar tidak menghasilkan kata-kata yang menimbulkan fitnah.
Namun sayangnya, sebahagian orang malah menjadikan fitnah sebagai “kendaraan politiknya” dalam meraih hawa nafsunya, seperti dalam memperebutkan jabatan. Sehingga perbuatan terlarang itu semakin berkelanjutan.
(Disadur ulang oleh : mjh dari Jarjani Usman)
Filed under: Awal





