Masjid Jama’atul Huda

Icon

“Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu”

BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUKMIN BERSABAR

Oleh : Adlan Ismail

Assalamu’alaikum wr. wb.
Hampir semua orang bisa mengatakan : “bersabarlah kamu atas musibah ini….” Namun, sedikit sekali dikalangan manusia yang dapat menjalankannya dengan baik manakala cobaan atau musibah tersebut datang menimpa dirinya. Rasa keputus-asaan mulai muncul manakala cobaan tak kunjung habisnya. Seakan dunia begitu kejam kepadanya. Bahkan tak jarang pula guna menghilangkan keputus-asaan ini sampai nekad bunuh diri. Na’uzubillaahi mindzaalik.

Bagi orang-orang yang beriman dan ta’at kepada Allah SWT, musibah selalu dijadikan sebagai ujian dalam keimanannya. Apabila ia berhasil mengatasinya dengan kesabaran, maka menanglah ia dalam ujian tersebut. Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat-31 : “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. Begitulah sikap seorang mukmin yang ta’at kepada Tuhan-nya. Ia selalu bersabar dan tidak berputus asa. Didalam sabarnya ia ber-ikhtiar dan berusaha. Semua usaha yang dia lakukan ia kembalikan kepada Tuhan-nya untuk menentukan segala sesuatu yang menjadi keputusan-Nya. Kemudian, ia mendirikan sholat dan memohon petunjuk kepada Allah SWT atas musibah yang dihadapinya. Ia meyakini dengan benar sebuah firman Allah SWT didalam Al-Qur’an yang artinya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” Al-Baqarah-45.

Hidup ini adalah tempatnya ujian dan cobaan. Selama kita masih hidup, ujian dan cobaan itu pasti selalu menghampiri kita. Ia bahkan terkadang begitu akrabnya dengan seseorang. Setiap orang berbeda kadar cobaannya. Yang miskin, dicoba dengan kemiskinannya. Yang kaya, dicoba pula dengan kekayaannya. Bagi yang miskin, Allah SWT mencobanya seberapa tinggi tingkat kesabarannya dalam menghadapi krisis ekonominya. Apakah ia akan mengumpat dan mencela Tuhan-nya. Ataukah ia tetap istiqomah dalam menjalankan perintah dan suruhan Tuhan-nya. Apabila didalam kemelaratannya ia mejalankan perintah dan suruhan Tuhan-nya dengan ikhlas, ber-ikhtiar dan memohonkan pertolongan kepada Allah, maka Allah SWT menjanjikan baginya kemenangan didunia ataupun diakhirat kelak.

Dan bagi si kaya, Allah SWT mengujinya dengan kekayaannya itu pula. Apakah dengan kekayaannya ia lupa kepada fakir miskin, menyantuni anak yatim, bersodaqoh dijalan Allah. Sehingga kekayaannya ia gunakan untuk berfoya-foya dalam kemaksiatan. Lidahnya mengatakan bahwa ia beriman, tapi tingkah lakunya berbuat kemunafikan. Dalam surat Al-Ma’un ayat 1 s/d 3 Allah SWT berfirman : “1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” Kelak orang-orang yang seperti ini, Allah akan memasukkan dia kedalam golongan orang-orang yang merugi.

Bunuh diri didalam keputus-asaan bukanlah menyelesaikan suatu masalah. Bahkan, ini merupakan dosa yang sangat besar. Tempatnya adalah neraka. Karena Allah SWT tidaklah menghendaki hambanya berputus asa didalam kehidupan dunia ini. Maka dari itu dirikanlah sholat dan sabarlah, karena sesungguhnya sholat dan sabar akan menjadi penolongmu dalam setiap musibah yang kau temukan. Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Filed under: Renungan ,

Leave a Reply